Kamis, 30 Oktober 2014

3 FAKTA MENGENAI AL-QUR'AN YANG 30 ZUZ

Ø  Satu-satunya kitab suci dibumi ini yang masih otentik.didalamnya hanya ada klalam ilahi, sebuah firman dari zat yang maha segalanya, sedikitpun tidak tercampur dengan perkataan-perkataan manusia sekalipun dari seorang Muhammad SAW.
Ø  Kitab suci satu-satunya yang sangat mungkin bisa di hafal. walau dengan jumlah ayat yang tidak sedikit dan berbahasa arab, namun jutaan manusia daari belahan benua mampu menghafalanya dengan tidak ada perbedaan hafalan satu ayat pun,sampai ketitik dan komanya.bahkan bisa dihafal dengn kondisi mundur atau terbalik. anak-anak dan orang tuna netrapun mampu sungguh hal ini sangat sesuai denagn apa yang dikatakan AL-Qur'an itu sendiri bahwa ia akan terpelihara keasliannya dari masa kemasa.

Ø  Kitab suci satu-satunya yang hanya tersedia satu versi tidak lebih, entah itu Al-Qur'an terbitan sekarang, 30 th yang lalu atau pun 300th silam. apakah itu terbitan Asia, Australia, Eropa, Amerika dan Afrika kalupun ada yang berbeda itu tidak lebih pada cara baca,penerjemahan atau penafsiran saja.
CERPEN BIKIN NGAKAK ,.......
Suatu waktu (Bosen hari terus) ada orang gagap datang melamar jadi sales man buku.
“P........ppper......misi,”salam si  Gagap.
“ Ada perlu apa nich pak ?’ jawab sang manager.
“S,.....Ss,...saya.....mm......mmmau  mmme,....lammarrrrrr  jj...jjadi sales pak,”
Papar si Gagap
“yang normal, cakep dan cantik, aja pada enggak beres menjual !!!! apa kamu yakin bisa jadi sales man?” Ungkap sang manager ketus.
“Bb,......bb,.....bisa Pak,” jawabnya mantap.
Esok harinya ternyata enggak sampai setengah hari, terjual 9 buku. Di kasih 19 buku, terjual semuanya. Begitu seterusnya makin bertamabah jumlah yang dia jual perharinya sampai buku tersebut menjadi bestseller.
Pada saat malam Resepsi pengormatan, sampailah kesempatan si Gagap memberikan rasia menjual buku.

“SSS,...........ssssederha,.....na,....kok, ssss.........saya.......cccc,.....cum,.....cuman,.........ssss,......sa,.....saya,......ccc,......cuman,....ttt,....ta,....tanya. Sssaja ke cccc,....cca ca,....calon pe,....empembelinya,  an,...anda,.....mmmau Bb,....bbbeli,....bbu,...ku ini,aa,..atau,.....mma,...mmmau,....ss,...sa,...saya,.....BA,...BACAKAAN,....???”
HAHAHA,..Terang saja para hadirin semua tertawa terbahak-bahak, termasuk anda bukan ? Like cerita ini Ok.Fix,......
By: Brain Master-Miracales-Wealth


Yang Paling Cepat - Seorang manager HRD sedang menyaring pelamar untung satu lowongan di kantornya. Ada empat orang calon yang cocok. Untuk menentukan yang terbaik, ia mengajukan pertanyaan kepada keempat calon tersebut:

Setahu Anda, apa yg paling cepat di dunia ini?

Calon pertama : "PIKIRAN..!!! Dia muncul begitu saja di dalam kepala, tanpa peringatan, tanpa ancang2. Tiba2 saja dia sudah ada..
"Bagus," sahut si Manager. "Kalau menurut anda?" tanyanya kepada calon ke-2.

Calon kedua : "Hmm…KEJAPAN MATA..!!! Datangnya tidak bisa di perkirakan, dan tanpa kita sadari mata kita sudah berkejap. "Bagus sekali! Memang ada ungkapan sekejap mata untuk menggambarkan betapa cepatnya sesuatu terjadi." Si manager berpaling ke calon ke3, yang sedang berpikir keras.

Calon ketiga : "NYALA LAMPU adalah yang tercepat yang saya ketahui…!!!" jawabnya.. "saya sering menyalakan saklar di dalam rumah dan lampu yang ada di taman langsung menyala saat itu juga. Si manager terkesan dengan jawaban kandidat ke 3. "Memang sulit mengalahkan kecepatan cahaya," pujinya. Di lirik oleh sang manager,
Calon ke'empat menjawab : "Sudah jelas bahwa yang paling cepat di dunia itu adalah MENCRET..!!!".
"APA????" seru sang manager yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu.

"Saya bisa menjelaskannya," kata calon ke4. "Dua hari lalu perut saya mendadak mules sekali. Cepat-cepat saya berlari ke toilet. Tapi sebelum saya sempat BERPIKIR, MENGEJAPKAN MATA, dan MENYALAKAN LAMPU saya sudah mencret di celana…!!
CERITA HUMOR,....

Bioghrafy Henry Wadsworth Longfellow

(February 27, 1807 – March 24, 1882) was an American poet and educator whose works include "Paul Revere's Ride", The Song of Hiawatha, and Evangeline. He was also the first American to translate Dante Alighieri's The Divine Comedy and was one of the five Fireside Poets.
Longfellow was born in Portland, Maine, which was then a part of Massachusetts. He studied at Bowdoin College. After spending time in Europe he became a professor at Bowdoin and, later, at Harvard College. His first major poetry collections were Voices of the Night (1839) and Ballads and Other Poems (1841). Longfellow retired from teaching in 1854 to focus on his writing, living the remainder of his life in Cambridge, Massachusetts, in a former headquarters of George Washington. His first wife Mary Potter died in 1835 after a miscarriage. His second wife Frances Appleton died in 1861 after sustaining burns when her dress caught fire. After her death, Longfellow had difficulty writing poetry for a time and focused on his translation. He died in 1882.
Longfellow wrote predominantly lyric poems, known for their musicality and often presenting stories of mythology and legend. He became the most popular American poet of his day and also had success overseas. He has been criticized, however, for imitating European styles and writing specifically for the masses.

HANYA ALLAH SWT YANG MAHA,...

Hanya Allah Yang Maha

Kalau kau merasa gagah
Janganlah coba menggagahi diri
Kalau kau merasa kaya
Jangan lah kau memperkaya diri
Jika kau merasa bagus janganlah pula merasa kebagusan
Kalau kau merasa bangga tunujukan apa yang kau banggakan
Kalu kau merasa pintar apalah gunanya kalau tak pandai
Kalau kau merasa pandai apalah gunanya kalau tak bisa
Kalu kau merasa bisa apalah gunanya tak mampu
Kalu kau merasa tak mampu
Janganlah merasa bodoh
Andaikan engkau merasa bodoh janganlah bersikap masa bodoh
Ingat satu pesan,....................
Memang baik menjadi orang penting
tapi lebih penting lagi menjadi orang baik
(Paman Syam)

ADOPTING A HANDICAP

My church recently staged a “Sensitivity Sunday” to make our congregation more aware of the problems faced by people with physical disabilities. We were asked to “adopt a disability” for several hours one Sunday morning. Some members, like me, chose to use weelchairs. Others wore sound-blocking earplugs, hobbled aroud on crutches, or wore blindflods.
Just sitting in the weelchair was instructive. I had never considered before how awkward it would be to use one. As soon as I sat down, my weight made the chair begin to roll. Its wheels were not locked, and I fumbled clumsily to correct that. Another awkward moment occurred when I realized I had no place to put my feet. I flumbed some more to turn the metal footrest into place. I felt pychologically awkward as well, as I took my first uneasy look at what was to be my only means of transportation for several hours. I realized that for many people, “adopting a weelchair” is not a temporary experiment. That was a sobering thought as I sank back into my seat.
Once I sat down, I had to learn how to cope with the wheelchair. I shifted around, trying to find a comfortable position. I thought it might be restful, even kind of nice, to be pushed around for a while. I glanced around to see who would be pushing me and then realized I would have to navigate the contraption by myself! My palms reddened and my wrist and forearm muscles started to ache as I trugged at the heavy metal wheels. I realized, as I veered  this way and that, that steering and turning were not going to be easy tasks. Trying to make right-angle turn from one aisle to another, I steered straight into a pew. I felt as tough everyone was staring at me and commenting on my clumsiness.

When the service started, other problems cropped up to frustrate me further. Every time the congregration stood up, my view was blocked. I could not see the minister, the choir, or the altar. Also, as the church’s aisles were narrow, I seemed to be in the way no matter where I parked myself. For instance, the ushers had to squeeze by me to pass the collection plate. This made me feel like a nuisance. Thanks to a new building program., however our church will soon have the wide aisles and well-spaced pews that will make life easier for disabled. After the service ended, when people stopped to talk to me, I had to strain my neck and look up them. This made me feel like a little child being talked down to and added to my sense of powerlessness. My weelchair experiment was soon over. It’s true that it made an impression on me. I no longer resent large tax expenditures for ramp-equipped buses, and I wouldn’t dream of parking my car in a space marked “Handicapped Only”. But I also realize how little I know about the daily life of a truly disable person”. A few hours of voluntary “disability” gave me only a hint of the challenges, both physical and emotional, that people with handicaps must overcome.

Nomor          : 0179/LPPM- STKIP/X/2014
Lamp            : -
Hal                           : Undangan

  Kepada         : Bapak/Ibu/Sdr.Tim Penyusun
                          Buku Panduan Penulisan Skripsi
                          Untuk:...........................................
                          di-
Alamat Masing-masing

 Asalamu’aalaikum Wr. Wb.

Mengharap dengan hormat dan sangat kepada Bapak/Ibu/Sdr Tim Penyusun Pedoman penulisan skripsi prodi PBI, PMAT, dan PGSD pada :
Hari /Tanggal            :  Ahad, 26 Oktober 2014
Waktu                       : 09:00 s/d Selesai
Tempat                      :  Ruang Rapat
Acara                         :  Penyusunan Buku Panduan Penulisan skripsi
Mengingat pentingnya acara tersebut maka di mohon Bapak/Ibu/Sdr datang tepat waktu.
Atas kerjasamanya di ucapkan terimakasih.

 Wasalamu’aalaikum Wr. Wb.

Paguyangan, 19 Oktober 2014
Ketua LPPM,



SUWARJONO, S.Pd, M.Si




Hening,.....

Hening.
Sunyi tanpa suara.
Tak ada lagi nyaring dering panggilan masuk.
Ponsel tergeletak hidup tanpa nyawa.
Sepanjang hari.
Hening.
Sepi tak ada renyah tawa.
Suara kasar nan serak bernyanyi menyadarkan pagi.
Menyentuh pipi dengan kecupan manja.
Meski hanya dalam sambungan telepon saja.
Hening.
Tak ada lagi nada rindu yang syahdu.
Kadang berbalut pilu karena waktu tak tepat menyampaikannya.
Tak ada lagi kata cinta yang mengalun merdu.
Melahirkan desir dalam dada.
Berakhir pada pipi yang bersemu, merah muda.
Hening.
Bisu sudah kini hidup dalam nyata.
Aku masih merasa kau ada.
Namun aku bernafas dalam kenyataan.
Dan menemukanmu sudah tak ada.
Hening.
Mulutku tertutup rapat dengan sempurna.
Menumpuk rindu.
Menahan dia agar tak sampai meledak.
Dalam air mata.
Untuk seseorang yang saya rindukan. Sudahkah menemui kebahagiaan?
Terima kasih atas keputusan perpisahan. Itu menyadarkan sesuatu, kita layak bernafas lebih tenang. Tanpa saling menautkan beban pikiran.
By. Odet Rahmawati
MANAGEMENT AND EMPLOYEE RELATIONS ACROSS CULTURES

Are Two Manager Too Many?
Three years ago, a german manufacturer of domestic electrical appliances (hairdryers,blenders,coffee  grinders, etc) opened a plant in tijuana,Mexico.
The company has two assembly line managers; one is german and one is mexcian. Nine month ago, a new german assembly line manager was sent over to replace a returning manager was not succesful with managing the assembly line employees during his stay. The new manager is Ms. Mara Graus. Working alongside Ms. Graus is the mexcian manager, pablo arango, who has been at the plant from the begining. Both managers share responsible for four floor supervisors  who oversee the thirty assembly line workers.
From the begining the two manager have disagreed on many management policy issues:
Ms. Graus feels that Mr.Arango is too friendly with subordinates ,both the supervisors and assembly line workers. Mr. Arango, in contrast. Feels that Ms. Graus is very cold and unfriendly to subordinates.
Mr. Arango feels that the floor supervisors should be given more responsibility and control over their workers. He feels they should be given more information related do their jobs and more decision-making power. Ms. Graus feels that they have  enough information to carry out their jobs and that she and Mr. Arango should be making all decisions.
Ms. Graus feels that the assembly line workers have low company morale. She believes that competitions in which  workers with the greatest output are rewarded with a bonus would raise company spirits Mr. Arango feels such competitions actually lower morale not raise it.
The disagreements have become serious that Ms. Graus and Mr. Arango are no longer able to effectively manage the assembly line. 


Rabu, 22 Oktober 2014

Hello guys,...sekarang saya sudah bisa aplikasi-aplikasi yang ada di komputer diantaranya camtasia, dan blog yang cantik ini.heee