The Succes of The Dream
Minggu, 10 Mei 2015
Kamis, 30 Oktober 2014
3 FAKTA
MENGENAI AL-QUR'AN YANG 30 ZUZ
Ø Satu-satunya
kitab suci dibumi ini yang masih otentik.didalamnya hanya ada klalam ilahi,
sebuah firman dari zat yang maha segalanya, sedikitpun tidak tercampur dengan
perkataan-perkataan manusia sekalipun dari seorang Muhammad SAW.
Ø Kitab
suci satu-satunya yang sangat mungkin bisa di hafal. walau dengan jumlah ayat
yang tidak sedikit dan berbahasa arab, namun jutaan manusia daari belahan benua
mampu menghafalanya dengan tidak ada perbedaan hafalan satu ayat pun,sampai
ketitik dan komanya.bahkan bisa dihafal dengn kondisi mundur atau terbalik.
anak-anak dan orang tuna netrapun mampu sungguh hal ini sangat sesuai denagn
apa yang dikatakan AL-Qur'an itu sendiri bahwa ia akan terpelihara keasliannya
dari masa kemasa.
Ø Kitab
suci satu-satunya yang hanya tersedia satu versi tidak lebih, entah itu
Al-Qur'an terbitan sekarang, 30 th yang lalu atau pun 300th silam. apakah itu
terbitan Asia, Australia, Eropa, Amerika dan Afrika kalupun ada yang berbeda
itu tidak lebih pada cara baca,penerjemahan atau penafsiran saja.
CERPEN BIKIN NGAKAK
,.......
Suatu waktu (Bosen hari terus)
ada orang gagap datang melamar jadi sales man buku.
“P........ppper......misi,”salam
si Gagap.
“ Ada perlu apa nich pak ?’ jawab
sang manager.
“S,.....Ss,...saya.....mm......mmmau mmme,....lammarrrrrr jj...jjadi sales pak,”
Papar si Gagap
“yang normal, cakep dan cantik, aja pada enggak beres menjual !!!! apa kamu yakin bisa jadi sales man?” Ungkap
sang manager ketus.
“Bb,......bb,.....bisa Pak,”
jawabnya mantap.
Esok harinya ternyata enggak
sampai setengah hari, terjual 9 buku. Di kasih 19 buku, terjual semuanya. Begitu
seterusnya makin bertamabah jumlah yang dia jual perharinya sampai buku
tersebut menjadi bestseller.
Pada saat malam Resepsi
pengormatan, sampailah kesempatan si Gagap memberikan rasia menjual buku.
“SSS,...........ssssederha,.....na,....kok,
ssss.........saya.......cccc,.....cum,.....cuman,.........ssss,......sa,.....saya,......ccc,......cuman,....ttt,....ta,....tanya.
Sssaja ke cccc,....cca ca,....calon pe,....empembelinya, an,...anda,.....mmmau Bb,....bbbeli,....bbu,...ku ini,aa,..atau,.....mma,...mmmau,....ss,...sa,...saya,.....BA,...BACAKAAN,....???”
HAHAHA,..Terang saja para hadirin semua tertawa terbahak-bahak, termasuk anda bukan ? Like cerita ini Ok.Fix,......
By: Brain Master-Miracales-Wealth
Yang
Paling Cepat - Seorang manager HRD sedang menyaring pelamar untung
satu lowongan di kantornya. Ada empat orang calon yang cocok. Untuk menentukan
yang terbaik, ia mengajukan pertanyaan kepada keempat calon tersebut:
Setahu Anda, apa yg paling cepat di dunia ini?
Setahu Anda, apa yg paling cepat di dunia ini?
Calon pertama
: "PIKIRAN..!!! Dia muncul begitu saja di dalam kepala, tanpa peringatan,
tanpa ancang2. Tiba2 saja dia sudah ada..
"Bagus," sahut si Manager. "Kalau menurut anda?" tanyanya kepada calon ke-2.
"Bagus," sahut si Manager. "Kalau menurut anda?" tanyanya kepada calon ke-2.
Calon kedua
: "Hmm…KEJAPAN MATA..!!! Datangnya tidak bisa di perkirakan, dan tanpa
kita sadari mata kita sudah berkejap. "Bagus sekali! Memang ada ungkapan
sekejap mata untuk menggambarkan betapa cepatnya sesuatu terjadi." Si
manager berpaling ke calon ke3, yang sedang berpikir keras.
Calon ketiga
: "NYALA LAMPU adalah yang tercepat yang saya ketahui…!!!" jawabnya..
"saya sering menyalakan saklar di dalam rumah dan lampu yang ada di taman
langsung menyala saat itu juga. Si manager terkesan dengan jawaban kandidat ke 3.
"Memang sulit mengalahkan kecepatan cahaya," pujinya. Di lirik oleh
sang manager,
Calon
ke'empat menjawab : "Sudah jelas
bahwa yang paling cepat di dunia itu adalah MENCRET..!!!".
"APA????" seru sang manager yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu.
"APA????" seru sang manager yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu.
"Saya bisa
menjelaskannya," kata calon ke4. "Dua hari lalu perut saya mendadak
mules sekali. Cepat-cepat saya berlari ke toilet. Tapi sebelum saya sempat
BERPIKIR, MENGEJAPKAN MATA, dan MENYALAKAN LAMPU saya sudah mencret di
celana…!!
CERITA HUMOR,....
Bioghrafy
Henry Wadsworth Longfellow
(February 27, 1807 – March
24, 1882) was an American poet and educator whose works include "Paul
Revere's Ride", The Song of Hiawatha, and Evangeline. He was also the
first American to translate Dante Alighieri's The Divine Comedy and was one of
the five Fireside Poets.
Longfellow was born in
Portland, Maine, which was then a part of Massachusetts. He studied at Bowdoin
College. After spending time in Europe he became a professor at Bowdoin and,
later, at Harvard College. His first major poetry collections were Voices of
the Night (1839) and Ballads and Other Poems (1841). Longfellow retired from
teaching in 1854 to focus on his writing, living the remainder of his life in
Cambridge, Massachusetts, in a former headquarters of George Washington. His
first wife Mary Potter died in 1835 after a miscarriage. His second wife
Frances Appleton died in 1861 after sustaining burns when her dress caught
fire. After her death, Longfellow had difficulty writing poetry for a time and
focused on his translation. He died in 1882.
Longfellow wrote
predominantly lyric poems, known for their musicality and often presenting
stories of mythology and legend. He became the most popular American poet of
his day and also had success overseas. He has been criticized, however, for
imitating European styles and writing specifically for the masses.
HANYA ALLAH SWT YANG MAHA,...
Hanya Allah Yang Maha
Kalau kau merasa gagah
Janganlah coba menggagahi diri
Kalau kau merasa kaya
Jangan lah kau memperkaya diri
Jika kau merasa bagus janganlah pula merasa kebagusan
Kalau kau merasa bangga tunujukan apa yang kau banggakan
Kalu kau merasa pintar apalah gunanya kalau tak pandai
Kalau kau merasa pandai apalah gunanya kalau tak bisa
Kalu kau merasa bisa apalah gunanya tak mampu
Kalu kau merasa tak mampu
Janganlah merasa bodoh
Andaikan engkau merasa bodoh janganlah bersikap masa bodoh
Ingat satu pesan,....................
Memang baik menjadi orang penting
tapi lebih penting lagi menjadi orang baik
(Paman Syam)
Janganlah coba menggagahi diri
Kalau kau merasa kaya
Jangan lah kau memperkaya diri
Jika kau merasa bagus janganlah pula merasa kebagusan
Kalau kau merasa bangga tunujukan apa yang kau banggakan
Kalu kau merasa pintar apalah gunanya kalau tak pandai
Kalau kau merasa pandai apalah gunanya kalau tak bisa
Kalu kau merasa bisa apalah gunanya tak mampu
Kalu kau merasa tak mampu
Janganlah merasa bodoh
Andaikan engkau merasa bodoh janganlah bersikap masa bodoh
Ingat satu pesan,....................
Memang baik menjadi orang penting
tapi lebih penting lagi menjadi orang baik
(Paman Syam)
ADOPTING A HANDICAP
My church recently staged a “Sensitivity Sunday” to make our
congregation more aware of the problems faced by people with physical
disabilities. We were asked to “adopt a disability” for several hours one
Sunday morning. Some members, like me, chose to use weelchairs. Others wore
sound-blocking earplugs, hobbled aroud on crutches, or wore blindflods.
Just sitting in the weelchair was instructive. I had never considered
before how awkward it would be to use one. As soon as I sat down, my weight
made the chair begin to roll. Its wheels were not locked, and I fumbled
clumsily to correct that. Another awkward moment occurred when I realized I had
no place to put my feet. I flumbed some more to turn the metal footrest into
place. I felt pychologically awkward as well, as I took my first uneasy look at
what was to be my only means of transportation for several hours. I realized
that for many people, “adopting a weelchair” is not a temporary experiment.
That was a sobering thought as I sank back into my seat.
Once I sat down, I had to learn how to cope with the wheelchair. I
shifted around, trying to find a comfortable position. I thought it might be
restful, even kind of nice, to be pushed around for a while. I glanced around
to see who would be pushing me and then realized I would have to navigate the
contraption by myself! My palms reddened and my wrist and forearm muscles
started to ache as I trugged at the heavy metal wheels. I realized, as I
veered this way and that, that steering and
turning were not going to be easy tasks. Trying to make right-angle turn from
one aisle to another, I steered straight into a pew. I felt as tough everyone
was staring at me and commenting on my clumsiness.
When the service started, other problems cropped up to frustrate me
further. Every time the congregration stood up, my view was blocked. I could
not see the minister, the choir, or the altar. Also, as the church’s aisles
were narrow, I seemed to be in the way no matter where I parked myself. For instance,
the ushers had to squeeze by me to pass the collection plate. This made me feel
like a nuisance. Thanks to a new building program., however our church will
soon have the wide aisles and well-spaced pews that will make life easier for
disabled. After the service ended, when people stopped to talk to me, I had to
strain my neck and look up them. This made me feel like a little child being
talked down to and added to my sense of powerlessness. My weelchair experiment
was soon over. It’s true that it made an impression on me. I no longer resent
large tax expenditures for ramp-equipped buses, and I wouldn’t dream of parking
my car in a space marked “Handicapped Only”. But I also realize how little I
know about the daily life of a truly disable person”. A few hours of voluntary
“disability” gave me only a hint of the challenges, both physical and
emotional, that people with handicaps must overcome.
Langganan:
Postingan (Atom)